Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

Keutamaan Menyebarkan Ilmu Agama

Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang mempelajari ilmu agama[2] yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia[3]. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu (agama)”[4].

Dalam hadist lain yang semakna dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah Ta’ala) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan”[5].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemuliaan dan keberkahan dari-Nya[6]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

    {هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}

    “Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43)[7].

- Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala yang merupakan sebab utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya[8].

- Sebagian dari para ulama ada yang menjelaskan makna hadits ini bahwa Allah Ta’ala akan menetapkan bagi orang yang mengajarkan ilmu agama pengabulan bagi semua permohonan ampun yang disampaikan oleh seluruh makhluk untuknya[9].

- Tentu saja yang keutamaan dalam hadits ini khusus bagi orang yang mengajarkan ilmu agama dengan niat ikhlas mengharapkan wajah Allah Ta’ala, bukan untuk tujuan mencari popularitas atau imbalan duniawi[10].

- Para ulama yang menyebarkan ilmu agama adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[11], karena merekalah yang menggantikan tugas para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam, yaitu menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala dan menyeru manusia ke jalan yang diridhai-Nya, serta bersabar dalam menjalankan semua itu, maka merekalah orang-orang yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala setelah para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam[12].

- Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyampaikan/menyebarkan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia lebih utama daripada menyampaikan (melemparkan) panah ke leher musuh (berperang melawan orang kafir di medan jihad), karena menyampaikan panah ke leher musuh banyak orang yang (mampu) melakukannya, sedangkan menyampaikan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia hanya (mampu) dilakukan oleh (para ulama) pewaris para Nabi ‘alaihis salam dan pengemban tugas mereka di umat mereka, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahan-Nya”[13].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 13 Ramadhan 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

Catatan Kaki:
[1] HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang semakna. Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467).
[2] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).
[3] Lihat keterangan  imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).
[4] Dinukil oleh imam al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab “Tarikh Bagdad” (10/160).
[5] HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Hibban (no. 88), dishahihkan oleh imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani rahimahkumullah, serta dinyatakan hasan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).
[6] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).
[7] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).
[8] Lihat keterangan  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64) dan al-Muanawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).
[9] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).
[10] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).
[11] Sebagaimana dalam HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Hibban (no. 88), dishahihkan oleh imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani rahimahkumullah.
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64).
[13] Kitab “Jala-ul afhaam” (hal. 415).

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html
 
 
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

Kesabaran Seorang Da’i

Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan rasul, yang meninggalkan umatnya di atas ajaran yang terang-benderang. Amma ba’du.

Saudaraku, semoga Allah membimbing langkah kita untuk berjalan di atas jalan-Nya, … berlalunya waktu dan pergantian generasi dari sejak masa kenabian berlalu senantiasa diwarnai dengan gelombang yang menerpa bahtera dakwah agama yang hanif ini. Gelombang yang menghempaskan hati dan tubuh para penyeru kebenaran di tepi-tepi kesabaran dan terkadang menggiring sebagian mereka mendekati garis keputus-asaan…

Subhanallah! Betapa beruntung, orang-orang yang tetap teguh di atas kesabaran, mengharapkan ridha Allah atas dakwahnya, dan memiliki harapan yang panjang bagi masyarakat yang didakwahinya. Memang, kesabaran ini menjadi salah satu kunci keberuntungan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “.. Sesungguhnya tidaklah ada seorang da’i pun yang mengajak manusia kepada apa yang didakwahkan oleh para rasul kecuali dia pasti akan menghadapi orang-orang yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya, sebagaimana halnya rintangan yang dihadapai oleh para rasul dan nabi-nabi dari kaum mereka.

Oleh sebab itu semestinya dia bersabar. Artinya dia harus berpegang teguh dengan kesabaran yang hal itu termasuk salah satu karakter terbaik yang dimiliki oleh ahli iman dan merupakan sebaik-baik bekal bagi seorang da’i yang mengajak kepada Allah tabaraka wa ta’ala, sama saja apakah dakwahnya itu ditujukan kepada orang-orang yang dekat dengannya atau selain mereka, dia haruslah menjadi orang yang penyabar.” (Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 13)

Bahkan, Allah pun mengingatkan kekasih-Nya, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul sebelum beliau.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah didustakan para rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan yang ditujukan kepada mereka, dan mereka pun tetap mendapatkan gangguan, sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.” (QS. al-An’am: 34).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Bersabarlah, sebagaimana ulul azmi dari kalangan rasul pun bersabar…” (QS. al-Ahqaf: 35)

Inilah akhlak seorang da’i kepada Rabbnya dan dalam berinteraksi dengan orang yang didakwahinya. Meniru keteladanan yang ada pada baginda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salafus shalih yang mendahului kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulullah suatu teladan yang bagus, bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan hari akhir.” (QS. al-Ahzab: 21)

Dari Urwah, suatu ketika ‘Aisyah radhiyallahu’anha -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”. Beliau menjawab, “Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa’alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku.

Dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.’ Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, ‘Wahai Muhammad’.

Dia berkata, ‘Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.’.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menjawab, “Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari [3231])

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terkandung keterangan mengenai besarnya rasa kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dan betapa kuat kesabaran dan kelembutan sikapnya. Hal itu selaras dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dengan rahmat Allah maka kamupun bersikap lembut kepada mereka’. Dan juga firman-Nya (yang artinya), ‘Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.’.” (Fath al-Bari [6/353])

Saudaraku, barisan pembela dakwah al-Haq akan senantiasa dihadang oleh barisan serdadu Iblis… akankah kau mundur ke belakang dan terlempar ke jurang kehancuran, atau kau memilih maju ke depan untuk meraih kemenangan dan berjumpa dengan Allah dengan membawa amalan?

Apabila hari ini engkau merintih dan mengeluh karena banyaknya rintangan dan hambatan yang engkau temui di atas jalan yang mulia ini -seolah-olah engkau telah kehilangan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa atas segalanya-, maka pilihlah jalan manapun yang kamu sukai -kalau engkau memang ingin memisahkan diri dari jalan dakwah ini- dan Allah pun tidak segan-segan untuk menimpakan hukuman-Nya kepada orang-orang yang durhaka!!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Apabila bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, sanak kerabat kalian, harta-harta yang kalian kumpulkan dan perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian senangi, itu lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai datangnya keputusan Allah, dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. at-Taubah: 24) (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 332)

Saudaraku, … inilah jalanku dan jalanmu, jalan yang dibentangkan oleh Allah dan dipimpin oleh nabimu, jalan yang akan mengantarkan kepada kemuliaan dan ampunan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah, aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31).

Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita, untuk istiqomah di atas jalan dakwah ini hingga ajal tiba. Sungguh, satu orang yang mendapatkan hidayah -dari Allah- dengan perantara dakwah kita itu jauh lebih berharga bagi masa depan kita daripada gerombolan onta merah ataupun simpanan harta-benda yang dibangga-banggakan oleh manusia. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

 
 
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

Di Mana Air Matamu?
Penyejuk Hati

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;

[1] seorang pemimpin yang adil,
[2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala,
[3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid,
[4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya,
[5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,
[6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan
[7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.

Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.”

Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”.

Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’

Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”.

Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.

Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).

Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.

al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”

Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Saya [penyusun artikel] berkata: Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa quwwata illa billah!

Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? Beginikah seorang salaf, wahai saudaraku? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (lihat QS. al-Maa’idah : 74).

Aina nahnu min haa’ulaa’i? Aina nahnu min akhlagis salaf? Ya akhi, jadilah salafi sejati!

Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah, asbabuhu wa mawani’uhu wa thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

 
 
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

Menghamba Kepada-Nya

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
Allah memiliki berbagai perintah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya, memiliki takdir berupa musibah dan ‘aib (maksiat) yang ditetapkan atas para hamba-Nya, memiliki nikmat yang diberikan kepada mereka.

Ketiga hal ini, yaitu perintah, takdir, dan nikmat memiliki ragam penghambaan kepada-Nya yang wajib ditunaikan setiap hamba. Pribadi yang paling dicintai-Nya adalah yang mampu mengenal berbagai bentuk penghambaan dan mampu menunaikan hak-Nya dalam ketiga kondisi tersebut. Pribadi yang paling jauh dari-Nya adalah pribadi yang tidak tahu bagaimana bentuk penghambaan kepada-Nya dalam ketiga kondisi tadi.

    * Bentuk penghambaan terkait perintah-Nya adalah dengan melaksanakannya secara ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkait dengan larangan-Nya, yaitu dengan menjauhinya karena takut dan cinta kepada-Nya, karena mengagungkan-Nya.

    * Penghambaan kepada-Nya ketika ditimpa musibah adalah dengan bersabar atas musibah tersebut; kemudian ridha, yang tingkatannya lebih tinggi dari bersabar; kemudian bersyukur, yang tingkatannya lebih tinggi dari ridha. Semua itu akan terwujud apabila kecintaan kepada-Nya terhunjam kuat di dalam hati hamba, dan dia tahu bahwa musibah tersebut merupakan pilhan terbaik baginya, bentuk kebaikan dan kelembutan-Nya kepada dirinya, meskipun dia tidak suka terhadap musibah itu.

    * Penghambaan kepada-Nya ketika tertimpa kemaksiatan adalah dengan segera bertaubat kepada-Nya, berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan memohon ampunan dengan hati yang tercerai berai, karena tahu tidak ada yang mampu menghilangkan ‘aib tersebut melainkan Dia semata, tidak ada yang mampu membendung keburukannya selain diri-Nya. Dirinya tahu, apabila ‘aib tersebut dibiarkan, maka akan menjauhkan dirinya dari berdekat-dekat dengan-Nya, ‘aib tersebut akan melempar dirinya dari pintu-Nya. Dengan demikian, dia melihat ‘aib merupakan bahaya yang tidak dapat disingkap kecuali oleh -Nya, dan dia berkeyakinan bahwa ‘aib (maksiat) tersebut lebih berbahaya daripada penyakit fisik.

Sehingga dia adalah seorang yang meminta perlindungan dengan ridha-Nya dari kemurkaan-Nya, meminta perlindungan dengan pemaafan-Nya dari siksa-Nya, dirinya butuh dan berlindung kepada-Nya.

Dirinya tahu apabila dia terlepas dari perlindungan-Nya, maka kemaksiatan dan aib yang serupa atau bahkan yang lebih buruk akan terjadi. Dirinya tahu tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari belenggu maksiat dan bertaubat dari hal itu, kecuali dengan taufik dan ‘inayah-Nya, semua hal itu berada di tangan-Nya, bukan di tangan hamba.

Dengan demikian, dia adalah seorang yang lemah, tidak berdaya untuk mendatangkan taufik bagi dirinya sendiri, tidak mampu mendatangkan ridha Tuan-nya tanpa izin, kehendak, dan ‘inayah-Nya. Dirinya adalah seorang yang butuh kepada-Nya, hina, miskin, menjatuhkan diri di hadapan-Nya, mengetuk pintu-Nya.

(Dengan adanya maksiat itu dia memandang dirinya sebagai) orang yang paling rendah dan hina, sehingga dia sangat fakir dan butuh kepada-Nya, dia cinta kepada-Nya.

(Dia tahu) tidak ada kebaikan pada dirinya, tidak pula kebaikan itu berasal darinya, yang ada adalah seluruh kebaikan adalah milik Allah, berada di tangan-Nya, dengan kehendak-Nya, dan berasal dari-Nya. Dia-lah yang mengatur nikmat, menciptakan, dan memberikan kepada dirinya disertai kebencian-Nya apabila dirinya berpaling, lalai dan bermaksiat kepada-Nya.

Maka, bagian Allah adalah pujian dan sanjungan, sedangkan bagian hamba adalah celaan, kekurangan, dan ‘aib. Dia memonopoli seluruh pujian dan sanjungan, Dia-lah yang menguasakan berbagai kekurangan dan ‘aib kepada hamba (apabila mendurhakai-Nya). Seluruh pujian hanya untuk-Nya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, seluruh keutamaan dan nikmat hanya untuk-Nya.

Seluruh kebaikan berasal dari-Nya, seluruh keburukan berasal dari hamba. Dia memperlihatkan kasih sayang kepada hamba dengan mencurahkan nikmat kepada mereka, adapun hamba-Nya memperlihatkan kebencian kepada-Nya dengan bermaksiat kepada-Nya. Dia membimbing hamba-Nya, adapun hamba, dia curang kepada-Nya ketika berinteraksi dengan-Nya.

    * Adapun bentuk penghambaan ketika memperoleh nikmat adalah dengan terlebih dahulu mengetahui dan mengakui pada hakekatnya nikmat itu berasal dari-Nya; kemudian berlindung dengan-Nya, jangan sampai terbersit dalam hati tindakan menisbatkan dan menyandarkan nikmat tersebut kepada selain-Nya, meskipun hal itu merupakan sebab terwujudnya nikmat, karena Dia-lah yang menyebabkan dan memberikan pengaruh pada sebab tersebut. Sehingga dari segala sisi nikmat itu hanya berasal dari-Nya; kemudian memuji-Nya atas nikmat yang diberikan, mencintai-Nya atas nikmat tersebut; kemudian bersyukur atas nikmat tersebut dengan menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya.

Bentuk penghambaan yang tertinggi terkait dengan nikmat-Nya adalah memandang banyak nikmat-Nya yang sedikit dan memandang betapa kecil rasa syukur yang dia tunaikan atas nikmat tersebut. Dia meyakini bahwa nikmat tersebut sampai kepada dirinya, dari Tuan-nya, tanpa ada biaya yang dia keluarkan, tanpa ada perantara, dia tahu dirinya tidak berhak atas nikmat tersebut, karena nikmat itu pada hakekatnya hanyalah milik-Nya, bukan milik hamba.

Maka setiap nikmat bertambah, maka bertambah pulalah ketundukan dan kehinaan diri di hadapan-Nya, bertambah pula sikap tawadhu’ (rendah hati) dan cinta kepada Sang pemberi nikmat. Sehingga setiap kali Allah memperbarui nikmat baginya, maka akan timbul penghambaan, kecintaan, kekhusyu’an, dan kehinaan terhadap-Nya; setiap kali Allah mencabut nikmat itu darinya, maka setiap kali itu pula timbul rasa ridha; setiap kali dia berbuat dosa, dirinya akan segera bertaubat, hatinya tercerai berai di hadapan-Nya, dan meminta maaf kepada-Nya.

Itulah hamba yang cerdas, adapun hamba yang dungu adalah yang tidak mampu merealisasikan itu semua.

Waffaqaniyalahu wa iyyakum.
[Diterjemahkan dari Fawaaidul Fawaaid hal. 46-48]
Gedong Kuning, Yogyakarta, 20 Rabi’uts Tsani 1431.
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

 
 
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

Terkumpulnya Sifat Takut dan Harap

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang menjelang sakaratul maut (saat menjelang kematian), maka beliau bertanya kepada pemuda tersebut:

«كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  «لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ» رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما.

“Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”. Dia menjawab: “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan adanya sifat berharap dan takut kepada Allah secara seimbang dalam diri seorang hamba, sekaligus menunjukkan keutamaan bersangka baik kepada Allah Ta’ala, terutama pada waktu sakit dan saat menjelang kematian[2], sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan dia bersangka baik kepada Allah U”[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang paling mulia di sisi-Nya, para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Allah Ta’ala memuji mereka dalam firman-Nya,

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan (perasaan) harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘” (QS al-Anbiyaa’:90).

- Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Yang dimaksud dengan ar-raja’ (berharap) adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah) maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghgapuskan (mengampuni) dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya) dia berharap agar Allah menerimanya. Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kemudian dia berharap Allah tidak menyiksanya (pada hari kiamat) tanpa ada rasa penyesalan dan (kesadaran untuk) meninggalkan perbuatan maksiat (tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah), maka ini adalah orang yang tertipu (oleh setan)” [4].

- Imam Hasan al-Bashri berkata, “Orang mukmin bersangka baik kepada Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka dia pun memperbaiki amal perbuatannya, sedangkan orang orang kafir dan munafik bersangka buruk kepada Allah maka mereka pun memperburuk amal perbuatan mereka” [5].

- Sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi sehat lebih utama menguatkan sifat al-khauf (takut) daripada ar-raja’ (berharap), agar seseorang tidak mudah lalai dan lebih semangat dalam beramal shaleh. Adapun ketika sakit, apalagi saat menjelang kematian, lebih utama menguatkan sifat ar-raja’ (berharap) untuk menumbuhkan persangkaan baik kepada Allah Ta’ala[6].

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA

Artikel www.muslim.or.id

[1] HR at-Tirmidzi (no. 983), Ibnu Majah (no. 4261) dan al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (no. 1001 dan 1002), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi, al-Mundziri dan syaikh al-Albani dalam “Shahihut targiib wat tarhiib” (no. 3383).
[2] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/301), “Shahihut targib wat tarhib” (3/174) dan “Ahkaamul jana-iz (hal. 11).
[3] HSR Muslim (no. 2877).
[4] Kitab “Fathul Baari”.
[5] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (4/121).
[6] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/301) dan “Faidhul Qadiir” (2/70).


 
 
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bagaimanakah kita Memanfaatkan Waktu?

Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama yang tidak ada Nabi setelahnya, amma ba’du:

Barang siapa yang mengikuti kabar tentang umat manusia dan memperhatikan keadaan mereka, dia akan mengetahui bagaimana mereka menghabiskan waktu, bagaimana mereka menghabiskan umur, sehingga dia akan mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan waktunya, mereka terhindar dari kenikmatan dapat memanfaatkan umur dan menggunakan waktu, oleh karena itu kita melihat mereka menafkahkan waktunya dan menghabiskan umurnya dengan apa-apa yang tidak mendatangkan manfaat baginya.

Sesungguhnya seseorang ada yang merasa heran dari kesenangan mereka dengan berjalannya hari serta berbahagia dengan berlalunya ia, mereka lupa bahwa setiap menit bahkan setiap saat yang telah berlalu dari umurnya akan mendekatkan dirinya kepada kubur dan akherat, serta menjauhkannya dari dunia.

Sesungguhnya kita senang akan hari yang dilalui ***
setiap hari akan berlalu sebagian dari umur ini

Apabila waktu adalah kehidupan dan dia adalah umur yang sebenarnya bagi manusia, dan bahwa penjagaannya merupakan pokok setiap kebaikan, penyia-nyiaannya merupakan pokok setiap kejelekan, maka ia mengharuskan suatu renungan yang menjelaskan tentang berharganya waktu dalam kehidupan seorang Muslim, apa yang diwajibkan bagi seorang Muslim terhadap waktunya, apa saja penyebab-penyebab yang dapat membantu untuk menjaga waktu, dan dengan apa seorang Muslim dapat memanfaatkan waktunya.

Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita termasuk dari dia yang dipanjangkan umur dan baik amalannya, serta mengaruniai kita dengan kebaikan dalam memanfaatkan waktu, karena Dia-lah sebaik-baik yang diminta.

Keberhargaan waktu dan kepentingannya:

Apabila manusia mengetahui keberhargaan sesuatu dan kepentingannya, niscaya dia akan menjaga dan menghindar dari menyia-nyiakan serta kehilangannya, dan ini merupakan suatu yang lazim. Oleh karena itu apabila seorang Muslim mengetahui akan keberhargaaan serta kepentingan waktunya, maka dia akan lebih berhati-hati dalam menjaga dan memanfaatkannya pada apa-apa yang mendekatkan dirinya kepada Allah,

inilah Imam Ibnul Qoyyim yang menjelaskan akan hakekat ini dengan perkataannya:
[waktu manusia adalah umur dia pada hakekatnya, ia adalah unsur kehidupan yang kekal dalam kenikmatan yang abadi, dan unsur kehidupannya yang sempit dalam adzab yang pedih, ia akan berlalu secepat berlalunya awan, barang siapa yang waktunya untuk Allah dan pada Allah, maka itulah kehidupan dan umurnya, dan yang selain itu tidak akan dihisab dari kehidupannya… apabila dia habiskan waktunya dalam kelalaian, kesia-siaan dan angan-angan yang batil, yang mana suatu terbaik yang dia habiskan adalah tidur dan kekosongan, maka kematian bagi orang ini akan lebih baik dari kehidupannya].

Ibnul Jauzi berkata: [setiap manusia berkewajiban untuk mengetahui kemuliaan zaman dan keberhargaan waktunya, sehingga tidak ada yang hilang darinya sedikitpun selain dari taqarrub, dia akan mengedepankan padanya apa yang terbaik dari perkataan dan perbuatan, hendaklah niatnya tegak berada pada kebaikan tanpa henti dengan apa yang tidak melemahkan badan dari beramal].

Al-Qur’an dan Sunnah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam, Allah telah bersumpah dengannya pada awal beberapa surah dalam beberapa juz yang berbeda, seperti: demi malam, demi siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, demi masa, sebagaimana firman-Nya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang benderang” [QS. Al-Lail: 1-2], “Demi fajar (1) dan malam yang sepuluh” [QS. Al-Fajr: 1-2], “Demi waktu matahari sepenggalahan naik (1) dan demi malam” [QS. Adh-Dhuha: 1-2], “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” [QS. Al-'Ashr: 1-2].

Sudah diketahui bahwasanya apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka ia menunjukkan kepentingan dan keagungannya, dan juga untuk menarik perhatian kepadanya serta menyadari akan besarnya manfaat yang ada padanya.

Sunnah datang untuk lebih menekankan tentang pentingnya waktu serta berharganya zaman, dan telah diulang-ulang bahwa manusia akan bertanggung jawab atasnya pada hari kiamat. Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah bersabda:

” لا تزول قدم عبد يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع خصال: عن عمره فيم أفناه, وعن شبابه فيم أبلاه, وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه, وعن علمه ماذا عمل فيه ”

“Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya” [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani].

Dan Nabi-pun mengabarkan bahwa waktu merupakan salah satu dari nikmat-nikmat Allah terhadap makhluk-Nya, seorang hamba diharuskan untuk mensyukuri nikmat yang dia dapat, dan jika tidak maka ia akan ditarik dan hilang darinya. Mensyukuri nikmat waktu dilakukan dengan menggunakannya pada keta’atan dan memanfaatkannya pada amal-amal saleh, bersabda Rasulullah :
” نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ ”

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang” [HR. Bukhori]

Kewajiban seorang Muslim terhadap waktunya:

Selama untuk waktu terdapat seluruh kepentingan-kepentingan ini, bahkan sampai dianggap kalau ia adalah kehidupan yang sebenarnya, maka bagi setiap Muslim terdapat kewajiban-kewajiban sekitar waktunya, dia harus meraihnya dan meletakkan dihadapan matanya, diantara kewajiban-kewajiban tersebut:

• Menjaga untuk selalu mengambil manfaat dari waktu:

Apabila manusia sangat perhatian sekali terhadap hartanya, sangat menjaga dan memanfaatkannya, dan dia mengetahui bahwa harta itu akan datang dan pergi, maka dia harus memperhatikan waktu dan memanfaatkan seluruhnya pada apa yang akan bermanfaat baginya dalam agama dan dunianya, karena apa yang akan kembali kepadanya dari kebaikan dan kebahagiaan akan lebih besar, terutama jika dia ketahui bahwa apa yang telah pergi darinya tidak akan kembali.

Orang-orang saleh terdahulu selalu sangat perhatian sekali terhadap waktunya; karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui akan keberhargaannya, mereka menjaga dengan sebenarnya agar tidak melewati satu hari atau satu saat dari zaman walaupun sangat pendek, tanpa menambah padanya dengan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, melawan hawa nafsu atau memberikan manfaat terhadap orang lain, berkata Al-Hasan: saya telah mendapati beberapa orang yang terhadap waktunya lebih sangat menjaga daripada kalian terhadap uang dirham dan dinar yang kalian miliki.

• Pengaturan waktu:
Diantara kewajiban-kewajiban seorang Muslim terhadap waktunya adalah menyusunnya antara kewajiban-kewajiban dengan amalan-amalan yang berbeda, baik itu secara agama ataupun keduniawiaan, sehingga sebagiannya tidak mengalahkan sebagian yang lain, dan tidak pula yang tidak penting mengalahkan yang penting.

Berkata salah seorang saleh: [waktu seorang hamba ada empat dan tidak ada yang kelima darinya: nikmat, cobaan, ta'at dan maksiat. Untuk Allah atas anda, pada setiap waktu darinya anda harus menyisihkan untuk ibadah yang dilakukan dengan hak sebagai hukum Rububiyyah: barang siapa yang waktunya pada keta'atan, maka jalannya adalah persaksian karunia dari Allah yang telah memberinya hidayah dan memberinya kemudahan ketika melaksanakannya, barang siapa yang waktunya pada kenikmatan maka jalannya adalah bersyukur, barang siapa yang waktunya pada kemaksiatan maka jalannya adalah bertaubat dan meminta ampunan, dan barang siapa yang waktunya pada cobaan maka jalannya adalah keridhoan dan kesabaran].

• Memanfaatkan waktu luangnya:
Waktu luang adalah kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan orang, sehingga kita melihat mereka dalam keadaan tidak menunaikan rasa syukurnya dan tidak pula menghargai dengan sebenarnya. Dari Ibnu Abbas: bahwa Nabi bersabda:

” نعمتان من نعم الله مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ ”

“Dua nikmat diantara nikmat-nikmat Allah yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang” [HR. Bukhori]. Dan Nabi-pun telah menganjurkan untuk memanfaatkannya dalam sabda beliau: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara…”, beliau menyebutkan diantaranya: “waktu luangmu sebelum waktu sibukmu” [HR. Al-Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Berkata salah seorang saleh: [Kosongnya waktu dari pekerjaan merupakan kenikmatan yang sangat besar, sehingga apabila seorang hamba mengkufuri nikmat ini dengan membuka dirinya kepada pintu hawa nafsu dan terjerumus dalam syahwat maka Allah akan balikkan kenikmatan hatinya, serta mengambil apa yang dia dapati dari kebersihan hati].

Seorang yang berakal harus menyibukkan waktu luangnya dengan kebaikan, dan jika tidak maka nikmat luangnya akan berbalik menjadi malapetaka terhadap dirinya, oleh karena itu dikatakan: [waktu luang bagi laki-laki adalah kelalaian dan bagi wanita adalah ghulmah" atau penggerak syahwat.

Beberapa penyebab yang membantu dalam menjaga waktu:

• Muhasabah diri: ia termasuk perantara terpenting yang dapat membantu seorang Muslim untuk memanfaatkan waktunya dalam keta'atan kepada Allah. Ia adalah perbuatan orang-orang saleh dan jalannya mereka yang bertaqwa. Oleh karena itu hisablah diri anda wahai saudaraku yang Muslim dan tanyakanlah kepadanya apa yang telah ia lakukan pada hari yang telah dilaluinya? Pada apa ia nafkahkan waktunya? Dan pada apa saja anda habiskan jam-jam keseharian anda? Apakah bertambah padanya kebaikan ataukah bertambah padanya kejelekan?

• Mendidik jiwa atas tingginya harapan: barang siapa yang membiasakan dirinya untuk selalu bergantung pada perkara-perkara yang tinggi dan menjauh dari kerendahannya, maka dia akan menjadi yang paling menjaga dalam memanfaatkan waktunya, barang siapa memiliki ketinggian harapan, maka dia tidak akan merasa puas dengan kekurangan, dan sesuai dengan ukurannya, harapan akan datang seperti apa yang diharapkannya:

Apabila tidak tinggi harapan seseorang, akan dilempar ia ***
dan merasa cukup dengan kerendahan dia yang rendah

• Berteman dengan mereka yang menjaga waktunya: karena sesungguhnya berteman dan bergaul bersama mereka, serta berusaha mendekati dan mengikutinya akan dapat membantu anda dalam memanfaatkan waktu, juga menguatkan diri dalam memanfaatkan usia untuk keta'atan kepada Allah, semoga Allah merahmati dia yang berkata:

Jika anda berada pada suatu kaum maka gaulilah yang terbaiknya ***
janganlah berteman dengan yang rendah sehingga anda menjadi rendah
Tentang seseorang janganlah ditanyakan tapi tanya siapa temannya ***
karena setiap pendamping akan mencontoh pendampingnya

• Mengetahui keadaan salaf bersama waktu: karena mengetahui keadaan mereka serta dengan membaca sejarahnya merupakan bantuan terbesar bagi seorang Muslim dalam memanfaatkan waktu, karena mereka adalah orang-orang terbaik yang memahami keberhargaan waktu dan kepentingan usia, mereka adalah contoh terbaik dalam memanfaatkan setiap menitnya dari umur dan memanfaatkan setiap nafasnya dalam keta'atan kepada Allah.

• Meragamkan apa yang dipergunakan dari waktu: karena jiwa ini menurut tabiatnya adalah cepat bosan dan selalu menghindar dari segala sesuatu yang diulang-ulang. Peragaman pekerjaan akan membantu jiwa dalam memanfaatkan bagian yang sebesar mungkin dari waktu.

• Memahami bahwa apa yang telah lalu dari waktu tidak akan kembali dan tidak pula bisa diganti: setiap hari yang telah dilampaui, setiap jam yang telah lewat dan setiap saat yang telah berlalu tidak mungkin untuk dapat dikembalikan, oleh karena itu tidak mungkin untuk dapat diganti, inilah arti dari perkataan Al-Hasan: [Tidak ada suatu haripun yang berlalu dari anak Adam kecuali ia akan berkata: wahai anak Adam, aku adalah hari baru dan akan menjadi saksi atas amalanmu, apabila telah pergi darimu aku tidak akan kembali lagi, maka hidangkanlah sesuai kehendakmu karena kamu akan mendapatkannya dihadapanmu, dan akhirkanlah sesuai kehendakmu karena ia tidak akan kembali kepadamu selamanya].

• Mengingat kematian dan saat menjelang kematiaan: tatkala manusia meninggalkan dunia, menghadap akherat dan berharap jika seandainya dia diberi sedikit saja kesempatan untuk memperbaiki yang telah rusak dan meraih apa yang telah terlewat, akan tetapi betapa tidak mungkinnya hal tersebut, karena masa beramal telah habis dan telah tiba masa perhitungan dan pembalasan. Maka teringatnya seseorang akan ini menjadikannya perhatian terhadap pemanfaatan waktunya dalam keridhoan terhadap Allah Ta’ala.

• Menjauh dari teman yang menyia-nyiakan waktu: sesungguhnya berteman dengan orang-orang malas serta bergaul bersama mereka yang suka membuang-buang waktu merupakan penyia-nyiaan terhadap kemampuan manusia dan waktu, sedangkan seseorang diukur dari teman dan pendampingnya, oleh karena itu berkata Abdullah bin Mas’ud: [Anggaplah seseorang itu dengan siapa dia berteman, karena seseorang akan berteman dengan yang semisalnya].

• Mengingat akan pertanyaan tentang waktu pada hari kiamat: tatkala seseorang berdiri dihadapan Rabb-nya pada hari yang menakutkan tersebut, dia akan ditanya tentang waktu dan umurnya, bagaimana dia habiskan? Untuk apa dia pergunakan? Pada apa dia manfaatkan? Dan dengan apa dia penuhi? Bersabda Rasulullah :

” لن تزول قدما عبد حتى يسأل عن خمس: عن عمره فيم أفناه؟ وعن شبابه فيم أبلاه؟… ”

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba hingga ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan? Tentang masa mudanya pada apa dua luangkan?…” [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani]. Mengingat terhadap permasalahan seperti ini akan membantu seorang Muslim dalam menjaga waktunya, serta memanfaatkannya pada apa yang Allah ridhoi.

Diantara keadaan-keadaan salaf bersama waktu:

• Berkata Al-Hasan Al-Bashri: [Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya kamu ini hanya beberapa hari, apabila berlalu satu hari maka telah pergi sebagian darimu]. Dalam kesempatan lain berkata pula: [Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya siangmu merupakan tamu untukmu, oleh karena itu berbuat baiklah kepadanya, karena apabila kamu berbuat baik kepadanya, maka ia akan pergi dengan memujimu, sedangkan jika kamu berbuat buruk kepadanya, ia akan pergi sambil mencelamu, begitu pula dengan malammu].

Pada saat lain dia berkata: [Dunia ini tiga hari: adapun kemarin, maka sesungguhnya ia telah pergi dengan apa yang ada padanya, adapun besok bisa jadi anda tidak akan mendapatkannya, sedangkan hari ini adalah untukmu, maka beramalah padanya].

• Berkata Ibnu Mas’ud: [Tidak ada penyesalan bagiku yang melebihi penyesalanku atas suatu hari yang mataharinya telah terbenam, umurku telah berkurang, namun amalanku tidak bertambah padanya].

• Berkata Ibnul Qoyyim: [Penyia-nyiaan terhadap waktu lebih berbahaya dari kematian, karena penyia-nyiaan waktu memutuskan hubungan antara anda dengan Allah dan akherat, sedangkan kematian memutuskan anda dari dunia dan penghuninya].

• Berkata As-Surri bin Al-Muflis: [Jika anda bersedih dari apa yang berkurang dari hartamu maka menangislah atas apa yang berkurang dari usiamu].

Dengan apa kita dapat memanfaatkan waktu?

Sesungguhnya kesempatan-kesempatan untuk memanfaatkan waktu sangatlah banyak, bagi seorang Muslim hendaklah dia memilih darinya apa yang sesuai dan lebih pantas untuknya, diantaranya:

• Menghafal Kitab Allah dan mempelajarinya: ini adalah kesibukkan terbaik yang dapat dimanfaatkan dari waktunya oleh seorang Muslim, dan Nabi telah memberi semangat untuk mempelajari Kitab Allah dalam sabdanya:
” خيركم من تعلم القرآن وعلّمه ” رواه البخاري
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” [HR. Bukhori]

• Menuntut ilmu: pada zaman dahulu para salafus sholeh lebih banyak menjaga untuk memanfaatkan waktunya dalam menuntut ilmu dan mempelajarinya; karena mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkannya melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Memanfaatkan waktu dalam menuntut ilmu serta mempelajarinya memiliki beberapa gambaran, diantaranya: menghadiri ceramah-ceramah penting, mendengarkan kaset-kaset bermanfaat, membaca serta membeli buku-buku yang menghasilkan faedah.

• Berdzikir kepada Allah: tidak ada suatu amalanpun yang mencukupi segala waktu seperti dzikir, ia adalah kesempatan yang bermanfaat dan mudah, tidak membebani seorang Muslim baik dari segi harta maupun pengorbanan, dan telah berwasiat Nabi kepada salah seorang sahabatnya seraya bersabda: “Hendaklah lidah kamu selalu basah oleh dzikir kepada Allah” [HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]. Betapa indahnya jika hati seorang Muslim dimakmurkan oleh dzikir kepada Penciptanya, apabila berbicara maka dibarengi oleh dzikir kepada-Nya, dan jika bergerak karena perintah-Nya.

• Memperbanyak amalan sunnah: ia merupakan kesempatan penting untuk memanfaatkan waktu dalam keta’atan kepada Allah, juga merupakan perbuatan penting dalam mendidik jiwa dan mensucikannya, yang mana ia merupakan kesempatan untuk menggantikan kekurangan yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah yang fardhu, dan yang lebih besar dari semua itu adalah bahwa ia merupakan penyebab untuk mendapatkan kecintaan Allah “Terus-menerus hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya” [HR. Bukhori].

• Berdakwah kepada Allah, Amar ma’ruf, Nahi munkar dan menasehati kaum Muslimin: semua ini adalah kesempatan-kesempatan berharga untuk memanfaatkan usia. Berdakwah kepada Allah termasuk kepentingan para Rasul dan risalah para Nabi, Allah Ta’ala telah berfirman:

” قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ”
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku” [QS. Yusuf: 108]. Jagalah wahai saudaraku untuk selalu memanfaatkan waktu anda untuk berdakwah, baik melalui ceramah, pembagian buku, kaset ataupun dengan mendakwahi keluarga, kerabat maupun tetangga.

• Mengunjungi kerabat dan bersilaturrahmi: ia merupakan penyebab masuknya surga, medapatkannya rahmat serta menambah umur dan melapangkan rejeki, bersabda Rasulullah :
” من أحب أن يبسط له في رزقه, وينسأ له في أثره, فليصل رحمه ” ( رواه البخاري )
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rejekinya dan diakhirkan ajalnya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahminya” [HR. Bukhori].

• Memanfaatkan waktu kosong pada setiap harinya: seperti setelah shalat, antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, pada saat mendengar adzan dan setelah shalat subuh sampai terbit matahari. Setiap waktu tersebut memiliki ibadah-ibadah utama yang dianjurkan oleh syari’at untuk dilakukan padanya agar seorang hamba bisa mendapatkan ganjaran yang besar dan pahala yang agung.

• Mempelajari segala sesuatu yang bermanfaat: seperti computer, berbagai jenis bahasa, mekanik, listrik, perkayuan dan lain sebagainya, dengan tujuan agar dia yang beragama Islam mendapat manfaat dan begitu pula dengan saudara-saudaranya..

Saudaraku Muslim, inilah beberapa kesempatan berharga, perantara yang banyak dan kesempatan beragam yang telah kami sebutkan untuk anda sebagai contohnya –sedangkan pintu kebaikan tidaklah terbatas- agar anda dapat memanfaatkan waktu padanya disamping kewajiban-kewajiban utama yang diharuskan atas anda.

Rintangan yang membunuh waktu:

Disana terdapat beberapa rintangan dan kendala cukup banyak yang menyebabkan seorang Muslim menyia-nyiakan waktunya, bahkan hampir sampai menghabiskan seluruh umurnya jika dia tidak memahaminya dan berlepas diri darinya, diantara rintangan dan kendala-kendala ini adalah:

Kelalaian: ia merupakan penyakit berbahaya yang menjadi cobaan bagi kebanyakan kaum Muslimin, sampai mereka kehilangan perasaan yang memiliki perhatikan terhadap waktu, Al-Qur’an telah memperingati tentang kelalaian ini dengan peringatan yang keras, bahkan sampai menjadikan pelakunya sebagai kayu bakar neraka jahanam, Allah berfirman:

” وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ”

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” [QS. Al-A'raaf: 179]

Berandai-andai: ia merupakan rintangan yang menghancurkan waktu dan membunuh usia, namun sangat disayangkan, kata “seandainya” telah menjadi ciri khas bagi kebanyakan kaum Muslimin dan menjadi kebiasaan bagi mereka.

Al-Hasan berkata: [Hati-hatilah anda dengan andai-andai, karena anda berada pada hari ini dan tidak sedang berada pada esok hari].

Hati-hatilah anda wahai saudara Muslimku dari berandai-andai, karena anda tidak bisa menjamin untuk bisa hidup sampai esok hari, dan jika anda dapat menjamin akan dapat hidup sampai esok hari, namun tidak dapat menjamin dari rintangan-rintangan yang seperti sakit mendadak, pekerjaan yang menghadang ataupun musibah yang datang. Ketahuilah bahwa setiap hari ada pekerjaan dan setiap waktu ada kewajiban-kewajibannya, tidak ada yang namanya waktu luang dalam kehidupan seorang Muslim, sebagaimana juga andai-andai dalam melaksanakan keta’atan akan menjadikan jiwa menjadi terbiasa untuk meninggalkannya, jadilah seperti yang dikatakan oleh seorang penya’ir”

Berbekalah ketakwaan karena kamu tidak tahu ***
apabila datang malam akankah hidup sampai subuh
Berapa banyak dari yang sehat meninggal tanpa sebab ***
dan berapa banyak dari yang sakit hidup lebih lama
Berapa banyak dari pemuda yang sore dan paginya aman ***

dan telah disulam kafannya sedang dia tidak ketahui
Oleh karena itu bersegeralah wahai saudaraku dengan memanfaatkan waktu dalam usiamu untuk ta’at kepada Allah, dan berhati-hatilah dari berandai-andai dan bermalas-malasan, berapa banyak di kuburan yang terbunuh oleh angan-angan. Andai-andai adalah pedang yang memotong seseorang dari pemanfaatan nafasnya dalam menta’ati Rabb-nya, berhati-hatilah untuk menjadi orang terbunuh dan korbannya.

Wasallallahu ‘ala Nabiyyihi Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam

http://www.islamhouse.com/p/207441

 
 
Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.
 

    Ukhti_Fr

    Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.

    Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

    Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

    Archives

    October 2010

    Categories

    All
    Di Mana Air Matamu?
    Kesabaran Seorang Da’i
    Memamfaatkan Waktu
    Menghamba Kepada Nya
    Menyebarkan Ilmu Agama
    Sifat Takut Dan Harap


Ukhti Fillah Rahimakumullah Mitra Berbusana para muslimah dan umahat. Menyediakan Jasa Pembuatan Toko Online @ Juli 2013.